
Kendari - Ada banyak cara orang mengejawantahkan rasa syukur dari kenikmatan yang didapat. Rasa syukur tersebut bisa berupa kesederhanaan dari sebagian kebutuhan yang bisa terpenuhi.
Pun wanita paruh baya yang hidup seadanya di sebuah kossan yang sangat sederhana
ini, rela hidup di perantauan selama bertahun-tahun demi menghidupi
anak-anaknya. Seorang wanita asal suku Jawa yang telah ditinggal mati oleh
suami tercintanya ini tetap tegar demi menyekolahkan anak-anaknya.
Berjualan kue merupakan langkah sukses yang telah di tempuh si Mbok. Tak
bisa dipungkiri, hasil keringat beliau telah mampu mengantarkan anak-anaknya ke
jenjang akhir pendidikan. Semua anak Mbok Darmi tinggal terpisah karena tuntutan
pekerjaan yang mengharuskan mereka jarang bertemu. Ada yang tinggal di
Jawa, Makassar, Kolaka dan Kendari, dengan pekerjaan yang berbeda-beda.
Sekarang beban beliau terbilang cukup ringan dari beban sebelumnya,
dikarenakan anak yang di tanggungnya saat ini hanya Bambang seorang. Bambang adalah anak terakhir beliau yang sekarang melanjutkan pendidikan di Universitas Halu Oleo, FKIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), jurusan matematika.
Seringkali beliau disarankan agar tidak bekerja dan memilih hidup bersama
anak-anaknya yang telah berpenghasilan. Namun, lagi-lagi si Mbok menolak dengan
alasan yang cukup logis dan begitu sangat mulia. Beliau mengatakan, kerena
sudah terbiasa bekerja sejak kecil, jika berhenti bekerja sehari saja
badan bisa sakit semua dan takut lumpuh karena tidak bekerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar